KEMENAG

Kemenag Sukses Layani 1,5 Juta Pegawai Digital Tahun 2025

Kemenag Sukses Layani 1,5 Juta Pegawai Digital Tahun 2025
Kemenag Sukses Layani 1,5 Juta Pegawai Digital Tahun 2025

JAKARTA - Transformasi digital di Kementerian Agama (Kemenag) menunjukkan hasil nyata sepanjang 2025. 

Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (Pusbangkom SDM) melaporkan bahwa layanan pembelajaran digital telah menjangkau 1,5 juta pegawai, melebihi target awal Bappenas yang ditetapkan sebesar 1,3 juta. 

Angka ini tidak sekadar statistik, melainkan cerminan semangat ASN Kemenag dalam mengembangkan kompetensi dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Semangat Pegawai Jadi Fokus Utama

Kepala Pusbangkom SDM, Mastuki, menekankan bahwa capaian ini lebih bersifat kualitatif. 

“Saya membaca capaian ini lebih bersifat kualitatif, yakni semangat pegawai Kementerian Agama untuk adaptif dengan perubahan dan menyesuaikan kompetensi untuk kemajuan organisasi. Itu jauh lebih penting dari sekedar angka,” ujarnya.

Mastuki menegaskan, pengembangan kompetensi merupakan kewajiban pegawai sendiri, bukan hak yang harus dituntut. Kemenag berperan sebagai fasilitator, menyediakan wahana pembelajaran yang memungkinkan setiap pegawai belajar mandiri. Menurutnya, budaya self learning harus menjadi kebiasaan baru. 

“Sistem kerja kita sudah berubah. Dan modal melakukan perubahan salah satunya adalah semangat mengembangkan diri, keinginan untuk terus menerus mengetahui hal-hal baru,” jelas Mastuki.

Layanan Pembelajaran Digital Terintegrasi

Pusbangkom SDM memaksimalkan platform MOOC Pintar untuk memberikan layanan kompetensi kepada 1,5 juta pegawai. Skema ini menggabungkan pelatihan daring, self learning, knowledge sharing, klinik pembelajaran, serta pendampingan secara intensif. 

Mastuki menjelaskan bahwa semua pembelajaran berbasis teknologi, baik melalui belajar mandiri, berbagi pengetahuan, maupun belajar terbimbing.

“Semua pembelajaran dilakukan dengan basis teknologi. Ada yang melalui belajar mandiri, berbagi pengetahuan, tapi juga ada yang basisnya belajar terbimbing. Tapi semua terintegrasi dengan teknologi. Ada 110 jenis pelatihan, 42 belajar terbimbing, 38 berbagi pengetahuan, dan 13 uji kompetensi,” ujarnya.

Profil peserta didominasi oleh PNS dan PPPK Kemenag sebanyak 1,3 juta orang, sementara sisanya berasal dari instansi lain dan masyarakat umum yang terkait dengan fungsi Kemenag. 

Usia mayoritas peserta berkisar antara 41-50 tahun sebanyak 38 persen, 51-60 tahun mencapai 21 persen, 31-40 tahun sebanyak 28 persen, dan 21-30 tahun sebanyak 11 persen.

Kepuasan Peserta Jadi Indikator Kualitas

Hasil survei menunjukkan mayoritas peserta merasa puas dengan layanan pembelajaran yang diberikan Pusbangkom SDM. “82 persen peserta merasa sangat puas dengan relevansi materi, penjelasan, penyajian, kualitas materi, dan kemudahan platform,” ungkap Mastuki.

Selain itu, mayoritas peserta menyatakan akan menerapkan hasil belajar mereka di tempat kerja. Sebanyak 80 persen berjanji untuk mempraktikkan ilmu yang diperoleh, sementara 81 persen meyakini pengembangan kompetensi akan meningkatkan efektivitas kerja dan kualitas layanan di masing-masing unit. 

Data ini menjadi indikator bahwa pembelajaran digital tidak hanya bersifat formalitas, tetapi benar-benar berdampak pada kinerja pegawai.

Digitalisasi Dorong Adaptasi dan Inovasi Pegawai

Keberhasilan Kemenag melayani 1,5 juta pegawai juga menunjukkan kemampuan institusi dalam mendorong pegawai adaptif terhadap perubahan. 

Pembelajaran digital yang terintegrasi mempermudah pegawai untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan tugas yang terus berkembang. Mastuki menekankan bahwa transformasi ini bukan sekadar teknologi, melainkan juga perubahan budaya kerja.

“Kita ingin pegawai tidak hanya menunggu penugasan, tapi memiliki inisiatif untuk belajar dan mengembangkan diri. Digitalisasi menjadi jembatan agar pegawai mampu mengikuti perkembangan kompetensi yang dibutuhkan,” katanya.

Dengan capaian ini, Kemenag tidak hanya berhasil melampaui target Bappenas, tetapi juga membuktikan bahwa pembelajaran digital dapat diterima secara luas, relevan, dan berdampak nyata pada kualitas pelayanan publik. 

Ke depan, strategi ini diharapkan memperkuat budaya pembelajaran mandiri, inovasi, dan adaptasi pegawai terhadap era digital.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index