JAKARTA - Semangat berprestasi tidak selalu ditentukan oleh usia, melainkan oleh tekad dan konsistensi.
Hal itu tercermin dari langkah atlet para tenis meja Indonesia, Tatok Hardiyanto, yang tetap bersiap menghadapi ajang internasional. Meski menjadi atlet tertua di tim, ia tetap membawa ambisi besar untuk Indonesia.
Tatok memastikan dirinya akan tampil dalam ASEAN Para Games Thailand 2025. Ajang tersebut digelar pada 20 hingga 26 Januari. Usianya yang telah menginjak 61 tahun tidak menghalangi niatnya untuk bersaing.
Ia menilai pengalaman panjang justru menjadi modal penting. Keikutsertaannya kali ini menjadi partisipasi ketujuh sepanjang karier. Setiap penampilan selalu ia jadikan kesempatan untuk memberi kontribusi terbaik.
Pengalaman Panjang di Level Internasional
Tatok menyebut edisi di Thailand sebagai pengalaman yang istimewa. Tidak banyak atlet yang mampu bertahan hingga usia senja di level internasional. Ia tetap menjaga semangat yang sama seperti saat awal berkarier.
Menurutnya, usia bukan alasan untuk berhenti berjuang. Selama tubuh masih mampu dan semangat terjaga, prestasi tetap bisa diraih. Prinsip itu yang ia pegang selama bertahun-tahun.
Dalam setiap latihan, Tatok selalu menanamkan disiplin tinggi. Ia percaya konsistensi lebih penting dibandingkan usia biologis. Dengan pendekatan itu, ia mampu tetap kompetitif.
Pola Hidup Sehat dan Mental Positif
Tatok menekankan pentingnya gaya hidup sehat. Menurutnya, kunci menjaga performa adalah keseimbangan fisik dan mental. Ia berusaha menjalani pola hidup yang terukur dan disiplin.
Perhatian pada nutrisi menjadi salah satu fokus utama. Selain itu, waktu istirahat yang cukup juga selalu ia jaga. Pengelolaan pikiran turut berperan besar dalam menjaga performa.
Ia membatasi waktu tidur malam maksimal pukul sepuluh. Setiap hari ia memastikan tidur minimal enam jam. Kebiasaan ini membantu menjaga kebugaran saat latihan dan pertandingan.
Dukungan Keluarga Jadi Sumber Kekuatan
Peran keluarga memiliki arti besar dalam perjalanan karier Tatok. Ia mengakui dukungan tersebut menjadi sumber motivasi utama. Keluarga selalu memberi semangat untuk terus bertanding.
Awalnya, Tatok mengira keluarganya ingin ia pensiun. Namun anggapan itu ternyata keliru. Ia justru mendapatkan dukungan penuh untuk terus berprestasi. Dukungan moral tersebut membuatnya semakin yakin. Ia merasa tidak berjalan sendiri dalam perjuangan ini. Kepercayaan keluarga menjadi dorongan besar untuk terus tampil maksimal.
Persaingan Ketat dari Rekan Sendiri
Menjelang pertandingan, Tatok menilai persaingan terberat datang dari rekan setim. Ia menilai kualitas atlet nasional semakin merata. Hal ini membuat kompetisi internal menjadi sangat ketat.
Nama Agus Sutanto dan Barce Eynstend Layaba disebut sebagai pesaing kuat. Menurutnya, keduanya terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus motivasi.
Ia tidak memandang persaingan sebagai ancaman. Justru dari sana ia bisa belajar dan berkembang. Setiap pertandingan menjadi bahan evaluasi berharga.
Rekam Jejak Prestasi dan Target Thailand
Pada dua edisi ASEAN Para Games sebelumnya, Tatok mencatat prestasi gemilang. Ia berhasil menyumbangkan tiga medali emas dan satu perak. Medali tersebut diraih di kelas 5.
Prestasi itu diraih dari nomor tunggal, beregu, dan ganda campuran. Capaian tersebut menjadi bukti konsistensi Tatok. Ia berharap dapat kembali memberi hasil terbaik. Dalam ASEAN Para Games Thailand 2025, Tatok akan tampil di dua nomor. Ia turun di tunggal TT5 kelas 5. Selain itu, ia juga berlaga di ganda putra TT8 kelas 5.
Setiap pertandingan akan ia jalani dengan fokus penuh. Pengalaman masa lalu dijadikan bahan pembelajaran. Evaluasi terus dilakukan untuk menutup kelemahan sebelumnya. Bagi Tatok, ajang ini bukan sekadar kompetisi. Ini adalah bentuk pengabdian kepada Indonesia. Ia ingin terus membuktikan bahwa usia bukan batas untuk berprestasi.